
Pencarian 5 Wartawan Hilang di Selat Sunda. Basarnas menambah kapal dan personel untuk memperkuat operasi pencarian lima wartawan serta tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Basarnas Perkuat Pencarian 5 Wartawan Hilang di Selat Sunda
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperkuat pencarian lima jurnalis di perairan Selat Sunda dengan kapal tambahan, Jumat (11/9/2026).
Operasi pencarian terhadap delapan orang yang hilang akibat putusnya kontak Speedboat Arupadatu I di perairan Selat Sunda memasuki babak baru. Memasuki hari keempat sejak insiden terjadi, Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Jakarta mengambil langkah strategis dengan menambah armada laut.
Penambahan ini bertujuan untuk memaksimalkan daya jelajah serta efektivitas tim penyelamat yang menyisir area sekitar Gunung Anak Krakatau. Insiden ini menyita perhatian publik karena menimpa kelompok jurnalis yang sedang menjalankan tugas jurnalistik meliput aktivitas vulkanik.
Kronologi Singkat dan Pengerahan Armada Tambahan
Tim SAR Gabungan tidak mengendurkan upaya mereka dalam mencari para korban. Pada Jumat, 11 September 2026, Basarnas Jakarta secara resmi mengerahkan Kapal Negara Pencarian dan Pertolongan (KN SAR) 234 Antasena. Kapal spesialis penyelamatan ini bertolak dari Dermaga Basarnas Pantai Mutiara, Jakarta Utara, pada pukul 15.00 WIB. Tujuan utamanya adalah menyisir wilayah operasi yang telah ditentukan oleh komandan lapangan.
Armada ini membawa 18 personel terlatih yang terdiri dari Anak Buah Kapal (ABK) serta personel rescue (penyelamat). Berdasarkan jadwal navigasi, KN SAR 234 Antasena tiba di Dermaga Indah Kiat, Kota Cilegon, Provinsi Banten, pada pukul 19.36 WIB. Setelah bersandar dan melakukan konsolidasi singkat, kapal tersebut langsung bergabung dengan tim yang sudah lebih dulu berada di lapangan untuk memetakan ulang area pencarian.
Desiana Kartika Bahari, Kepala Kantor SAR Jakarta, menjelaskan bahwa penambahan kekuatan ini memiliki peran vital dalam memperbesar skala operasi di tengah kondisi perairan Selat Sunda yang dinamis. Dalam keterangan resminya, Desiana menyampaikan pernyataan terkait langkah penambahan armada tersebut.
“Kami mengerahkan KN SAR 234 Antasena beserta 18 orang ABK dan personel rescue sebagai dukungan kekuatan untuk memperkuat operasi pencarian dan pertolongan yang saat ini terus dilakukan. Penambahan unsur ini diharapkan dapat mendukung upaya pencarian agar dapat berjalan lebih optimal sesuai dengan perkembangan situasi di lapangan,” ucap Desiana Kartika Bahari, Kepala Kantor SAR Jakarta.
Misi Peliputan Berujung Hilang Kontak
Tragedi ini bermula ketika speedboat Arupadatu I yang membawa delapan orang penumpang berlayar menuju perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau. Kapal kecil ini memulai perjalanannya pada Senin, 7 September 2026. Tujuan pelayaran tersebut murni untuk kegiatan jurnalistik. Para wartawan dari berbagai media massa nasional maupun internasional berusaha mengabadikan momen serta melaporkan kondisi terkini dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang memang kerap menunjukkan fluktuasi vulkanik.
Namun, di tengah perjalanan, pusat komando darat kehilangan kontak dengan kapal tersebut. Sejak saat itu, para penumpang tidak memberikan kabar maupun sinyal darurat yang bisa dilacak secara langsung oleh tim penyelamat. Menghilangnya kapal ini mengundang respons cepat dari berbagai pihak, terutama instansi yang menangani kondisi kedaruratan di perairan Indonesia.
Tim SAR Gabungan mencatat ada delapan nyawa yang berada di dalam manifes speedboat Arupadatu I. Mereka terdiri dari tiga orang kru kapal yang bertugas mengoperasikan armada dan memandu perjalanan, serta lima orang jurnalis yang sedang melaksanakan tugas peliputan.
Berikut adalah daftar identitas ketiga kru kapal yang belum tim SAR temukan hingga saat ini:
- Warta (55 tahun), bertugas sebagai kapten kapal.
- Surakman (60 tahun), bertugas sebagai Anak Buah Kapal (ABK).
- Heriyanto (49 tahun), bertugas sebagai pemandu navigasi (guide).
Sementara itu, lima jurnalis yang menjadi penumpang dalam kapal tersebut mewakili sejumlah media terkemuka. Identitas kelima wartawan yang masih dalam status hilang kontak meliputi:
- M. Bagus Khoirunnas (28 tahun), jurnalis dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.
- Ari Basuki (52 tahun), jurnalis dari media Merdeka.
- Yudhis, jurnalis dari stasiun televisi iNews.
- Daus (42 tahun), jurnalis dari kantor berita asal Turki, Anadolu.
- Donal, seorang jurnalis lepas (freelance).
Perluasan Area Pencarian dan Pemanfaatan Teknologi
Operasi pencarian ini tidak hanya mengandalkan penyisiran manual. Tim SAR Gabungan mengintegrasikan berbagai unsur baik dari darat, laut, maupun udara demi menemukan titik terang. Sebelum Basarnas Jakarta mengirimkan KN SAR 234 Antasena, tim gabungan telah memperluas jangkauan pencarian hingga mencakup ribuan mil laut di sekitar kawasan Selat Sunda dan pulau-pulau kecil yang berdekatan dengan Gunung Anak Krakatau.
Mereka mengerahkan beragam kendaraan taktis untuk operasi ini. Kapal-kapal pencari berukuran besar, perahu cepat (speedboat), hingga helikopter terbang menyisir permukaan laut dari udara. Tidak ketinggalan, tim juga menggunakan teknologi drone termal (pesawat nirawak dengan sensor inframerah) untuk mendeteksi suhu tubuh atau sisa-sisa panas mesin kapal di tengah perairan, terutama ketika malam hari atau saat visibilitas menurun akibat kabut dan cuaca buruk.
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menegaskan bahwa keselamatan seluruh personel yang terlibat dalam operasi ini tetap menjadi prioritas utama. Kondisi alam di sekitar Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau memiliki tantangan tersendiri, mulai dari arus bawah laut yang kuat, angin kencang, hingga potensi gas beracun maupun material abu vulkanik dari erupsi gunung. Oleh karena itu, pusat komando meminta seluruh unsur yang terlibat untuk terus menyesuaikan pelaksanaan operasi dengan kondisi nyata serta perkembangan cuaca di lapangan.
Setiap personel penyelamat harus mengenakan peralatan keselamatan standar dan menjaga jalur komunikasi yang solid antararmada. Koordinasi lintas lembaga yang melibatkan aparat kepolisian, TNI, serta relawan masyarakat setempat juga terus tim SAR tingkatkan demi mempercepat proses penemuan para korban. Publik dan keluarga korban kini menanti dengan penuh harap agar operasi SAR skala besar ini segera membuahkan hasil positif.
Bagi kalangan pers, hilangnya lima orang rekan seprofesi saat meliput peristiwa alam ini menjadi pukulan telak yang kembali mengingatkan semua pihak akan besarnya risiko dalam dunia jurnalistik. Upaya masif dari Basarnas dan Tim SAR Gabungan memperlihatkan komitmen kuat negara dalam melindungi keselamatan jiwa setiap warga negaranya, tanpa terkecuali para jurnalis yang rela menantang bahaya demi menyajikan informasi akurat bagi masyarakat luas.
