
Pencarian 5 jurnalis di Pulau Sertung masih nihil. Tim SAR gabungan masih mencari 5 jurnalis dan 3 kru kapal yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau. Kabut tebal dan status rawan menghambat pencarian.
Pencarian 5 Jurnalis di Pulau Sertung Masih Nihil
Tim SAR gabungan melanjutkan pencarian 5 jurnalis dan 3 kru kapal yang hilang di Pulau Sertung, Gunung Anak Krakatau. Hasil pemantauan visual masih nihil, Kamis (10/9).
Kepala Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas Banten), Al Amrad, mengonfirmasi bahwa petugas dan nelayan setempat telah menyisir pulau-pulau di sekeliling wilayah tersebut.
Namun, tim penyelamat belum dapat menembus daratan Pulau Sertung secara langsung. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan area tersebut sebagai zona merah yang berbahaya untuk dimasuki akibat aktivitas vulkanik.
“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km ya, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan, tetapi kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ dari data BMKG, data BNPB, perkiraan tindakan apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa masuk ke situ untuk memastikan,” katanya.
Penggunaan Teknologi dan Hambatan Alam
Pemerintah terus memaksimalkan pencarian SAR dengan mengerahkan teknologi pemantauan dari udara. Petugas meluncurkan pesawat nirawak (drone) dari Kapal Negara Search and Rescue (KN SAR) Tetuka di perairan Pulau Sangiang.
Sayangnya, operasi udara ini belum membuahkan hasil positif. Berdasarkan pemaparan tim di lapangan, terdapat tiga kendala utama yang menghambat operasi kemanusiaan ini:
- Jarak Aman Vulkanik: Titik dugaan hilangnya korban berada di dalam radius 3 kilometer dari kawah utama, area yang dilarang keras untuk dilewati menurut standar operasional PVMBG.
- Jarak Pandang Terbatas: Ketebalan kabut asap vulkanik akibat erupsi Krakatau menghalangi daya pandang drone, sehingga kamera tidak dapat menangkap visual daratan.
- Fluktuasi Cuaca: Cuaca buruk dan kondisi atmosfer yang tidak menentu memerlukan pemantauan intensif untuk meminimalkan risiko bagi tim SAR.
“Untuk hari ini, informasi dari rekan-rekan di lapangan yang di sekitar yang menggunakan drone, yaitu KN SAR Tetuka, mencoba hal tersebut dan hasilnya tidak bisa karena kabut asap sangat tebal,” ucap Amrad.
Keselamatan tim evakuasi tetap menjadi prioritas. Oleh karena itu, Basarnas Banten memperkuat koordinasi lintas sektoral dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Sinergi ini bertujuan untuk membaca pergerakan angin, status abu vulkanik, dan celah keselamatan sebelum tim turun langsung ke daratan pulau.
“Jadi, rekan-rekan yang dari BMKG termasuk dari PVMBG itu selalu memberikan informasi, mereka melaporkan per jam perkembangannya, apabila ada urgensi, itu akan menyampaikan ke kami,” tuturnya.
Jejak Terakhir dan Harapan Keluarga Korban
Di tempat terpisah, keluarga para korban jurnalis hilang terus menanti kabar baik dan mendesak percepatan proses penyelamatan.
Desi Purnamasari, istri dari pewarta Kantor Berita ANTARA bernama Bagus, menemui Gubernur Banten Andra Soni untuk menyampaikan permohonannya secara langsung.
“Mohon dilakukan pencarian semaksimal mungkin pak,” kata dia kepada Andra Soni dikutip dari tayangan YouTube, Kamis 10 September 2026.
Menyikapi permohonan tersebut, Gubernur Banten menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mengawal operasi evakuasi ini.
“InsyaAllah kita sedang koordinasikan,” kata Gubernur Banten.
Dalam perbincangan yang sama, Desi membeberkan kronologi dan pesan terakhir yang ia terima dari rombongan. Komunikasi terakhir menunjukkan bahwa kelompok tersebut tengah berada di perairan Gunung Anak Krakatau dan sempat mengirimkan dokumentasi foto sesaat sebelum seluruh alat komunikasi kehilangan sinyal.
“Izin saya menyampaikan informasi terkahir yang saya terima boleh? Saya menerima informasi terakhir mereka itu mengirim foto 18.13 WIB sekitar pulau Sertung. 18.13 masih mengirim foto dan 18.15 itu saya contact lagi sudah ceklist satu udah nggak bisa,” kata Desy.
Hingga berita ini diturunkan, posko terpadu terus mengumpulkan data dan menunggu celah cuaca yang memungkinkan tim evakuasi untuk menembus zona pencarian primer.
